Alasan Dari Diterapkan Kembali PSBB Masa Transisi dan Dampak Ekonominya

pembatasan sosial berskala besar DKI Jakarta

greenideasblog.com – Dampak Covid 19 masih terus bertambah baik dari sisi korban dan dampak lainnya yang ditimbulkan. Tentunya hal ini membuat banyak masyarakat masih belum bisa beraktifitas normal seperti biasanya. Masih terus bertambahnya kasus terjadi di DKI Jakarta, membuat PSBB masa transisi terus dilakukan dan diperpanjang. 

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terus diperpanjang hingga 13 Agustus 2020 dengan mematuhi beberapa protokol kesehatan yang telah ada. Kegiatan ini dilakukan kembali, karena jumlah pasien yang terpapar masih terus bertambah dan masyarakat perlu menjaga kedisiplinannya. Dengan begitu pemerintah Jakarta memberlakukannya kembali PSBB terbaru

Berikut Beberapa Alasan Kembali Diberlakukannya PSBB Transisi Terbaru, sebagai berikut

1. Adanya Klaster Terbaru Penyebaran Kasus Covid 19

Setelah beberapa minggu terakhir Indonesia memberlakukan aktifitas new normal, membuat beberapa aktivitas terus dibuka dan dijalankan. Diantaranya aktivitas perkantoran yang dibutuhkan untuk menjalankan roda perekonomian di Indonesia. Melihat hal ini, DKI Jakarta menjadi sorotan, karena merupakan pusat ekonomi Indonesia berada di Jakarta. Melihat banyaknya berbagai aktivitas dilakukan dan menyebabkan hadirnya cluster terbaru yang membuat kembalinya PSBB diperpanjang.

ditemukannya klaster baru dari penyebaran covid-19

Dampak dari new normal yang telah dibuka kembali, tidak didampingi dengan beberapa protokol dan kedisiplinan masyarakat yang kurang. Adanya klaster terbaru penyebaran yang terjadi diperkantoran membuat pemerintah Jakarta untuk memperpanjang statusnya dan harapan masyarakat DKI Jakarta dapat mematuhinya dalam menjalankan protokol kesehatan.

2. Dampak Ekonomi Terhadap PSBB Transisi DKI Jakarta

Menurut para pakar ekonomi, selama diberlakukan dan diperpanjangnya PSBB yang dilakukan pemerintah DKI Jakarta tidak terlalu berpengaruh dalam aktivitas ekonominya. Karena, beberapa unit usaha telah diperbolehkan untuk dibuka dan menjalankan aktivitas ekonomi. Dengan begitu pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Tetapi, para pakar ekonomi menyatakan bahwa perlunya untuk memberikan PSBB pada masa awal pandemi terjadi. Karena proses penyebaran benar-benar dapat terukur dan tidak seperti sekarang ini. Dengan melihat jumlah kasus yang terus bertambah banyak dan kedisiplinan masyarakat rendah membuat pemulihan ekonomi kedepannya jauh lebih sulit.

Dampak ketika memberlakukan PSBB secara penuh dan tidak dilakukan dengan transisi memang mengakibatkan ekonomi menjadi lemah. Tetapi, dengan mengacu pada korban yang terpapar dan pertumbuhan yang belum signifikan, langkah terbaik untuk melakukan PSBB secara penuh. Tetapi, semuanya kembali ke pemerintah DKI Jakarta dan masyarakatnya. Tetap utamakan untuk selalu menjaga protokol kesehatan dan disiplin.

Namun masyarakat masih bisa menjalankan perekonomiannya baik pribadi ataupun sektor UMKM melalui media online yang saat ini semakin marak. Dan bagi yang membutuhkan modal pinjaman terkait usaha masih bisa mengajukan di beberapa lembaga perbankan ataupun yang berbasis aplikasi pinjaman daring seperti Tunaiku yang turut membantu memberikan manfaat bagi penggunanya.

3. Perlunya Hukuman Bagi Yang Melanggar

Selama masa transisi diberlakukan mulai banyak masyarakat yang sudah menganggap kembali kehidupan seperti sedia kala. Tetapi, masih banyak yang lalai dan tidak mematuhi kembali aturan yang dibuat sebelumnya. Melihat hal ini pemerintah berencana untuk membuat hukuman yang lebih berat ketika ada masyarakat yang melanggar dan tidak mematuhi protokol kesehatan. 

Ada banyak hal yang bisa dilakukan baik dari pencabutan bansos, pencabutan Kartu Jakarta Pintar atau meningkatkan denda berupa uang. Dengan berbagai sanksi tersebut membuat masyarakat dapat lebih jera dan mematuhi beberapa aturan yang ada. Konsep ini dapat mencontoh beberapa negara lainnya seperti Filipina, Malaysia dan Australia. 

Dengan beberapa aturan yang dibuat masa transisi ini seharusnya masyrakat dapat lebih waspada dan bukan malah menganggap semuanya telah selesai. Tetap lakukan protokol kesehatan, tetap waspada, dan tidak panik, memang semuanya telah berjalan dan bukan berarti harus lalai dan melupakannya.

4. Bidang Bisnis Hanya Dibuka 50 Persen Saja

Berbagai usaha memang diperbolehkan untuk dibuka, tetapi tetap mematuhi beberapa kapasitas yang telah ditentukan. Sehingga, belum sepenuhnya 100 persen total diperbolehkan untuk seperti biasanya.

pembatasan sosial berskala besar DKI Jakarta

Masyarakat yang ingin datang ke restoran dan ingin berkunjung ke beberapa tempat sudah bisa, tetapi tetap melakukan protokol kesehatan. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi resesi ekonomi, sehingga dibukanya beberapa unit bisnis dengan kapasitas 50 persen saja.

5. Terus Meningkatnya Korban 

Setiap harinya pemerintah DKI Jakarta terus mengalami peningkatan setelah PSBB Transisi terus diberlakukan. Pemerintah DKI Jakarta menyoroti beberapa perkantoran, pasar dan aktivitas masyarakat yang sudah bersikap biasa. Melihat perkembangan ini, PSBB Transisi dilakukan dengan lebih ketat lagi dan dapat menekan laju pergerakan dan penyebarannya. Oleh karena itu, Anda harus tetap selalu waspada dan tidak panik. Tetapi, jangan abai terhadap kasus covid 19 ini.

Kesimpulan

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi ini kembali diberlakukan dan diperpanjang. Karena, banyaknya kasus harian yang terus bertambah dan aktivitas masyarakat yang telah abai dan tidak memperdulikannya lagi. Untuk urusan ekonomi, DKI Jakarta memang mengalami peningkatan, tetapi tidak terlalu signifikan. Namun, Negara Indonesia diprediksi tidak berpengaruh terhadap resesi dan 2022 tumbuh 6 persen ekonominya. Dalam artian, walaupun aktivitas[ PSBB tetap diberlakukan untuk dampak ekonomi memang terus terjadi, tetapi dampaknya dapat diatasi. Karena, beberapa sektor telah dibuka dan dapat berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi DKI Jakarta dan Indonesia.

 

Scroll to Top